Senin, 07 Oktober 2013

KONSEP KOPERASI

munkner dari university of manburg, jerman barat membedakan konsep koperasi menjadi dua: konsep koperasibarat dan konsep koperasi sosialis. Hal ini di latarbelakangi oleh pemikiran bahwa pada dasarnya, perkembangan konsep-konsep yang bersal dari Negara-negara berpaham sosialis, sedangkan konsep berkembang dinegara dunia ketiga merupakan perpaduan dari kedua konsep tersebut.

KONSEP KOPERASI BARAT
Konsep koperasi barat menyatakan bahwa koperasi merupakan organisasi swasta, yang di bentuk secara sukarela oleh orang-orang yang mempunyai persamaan kepentingan,dengan maksud mengurusi kepentingan para anggotanya serta menciptakan keuntungan timbal balik bagi anggota koperasi maupun perusahaan koperasi.
Dampak langsung koperasi terhadap anggotanya adalah ;
· Promosi kegiatan ekonomi anggota
· Pengembangan usaha koperasi dalam hal investasi formulasi permodalan, pengembangan sumber daya manusia(SDM), pengembangan keahlian untuk bertindak sebagai wirausahawan, dan kerjasama antarkoperasi secara horizontal dan vertical.
Dampak koperasi secara tidak langsung adalah sebagai berikut:
· Pengembangan kondisi social ekonomi sejumlah produsen skala kecil maupun pelanggan
· Mengembangkan inovasi pada perusahaan skala kecil,misalnya inovasi teknik dan metode produksi
· Memberikan distribusi pendapatan yang lebih seimbang dengan pemberian harga yang wajar antara produsen dengan konsumen, serta pemberian kesempatan yang sama pada koperasi dan perusahaan kecil.

KONSEP KOPERASI SOSIALIS


Konsep ini menjelaskan bahwa koperasi itu direncanakan dan dikendalikan oleh pemerintah dan dibentuk dengan tujuan merasionalkan produksi untuk menunjang perencanaan nasional. Konsep ini juga menjelaskan bahwa koperasi ini tidak berdiri sendiri melainkan merupakan subsistem dari system sosialis untuk mencapai tujuan system sosialis-komunis


KONSEP KOPERASI NEGARA BERKEMBANG (INDONESIA)
Munkner hanya membedakan koperasi berdasar konsep barat dan konsep sosialis. Sementara itu didunia ketiga, walaupun masih mengacu pada kedua konsep tersebut, namun koperasinya sudah berkembang dengan cirri tersendiri,yaitu dominasi campur tangan pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan. Adanya campur tangan pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan koperasi di Indonesia membuatnya mirip dengan konsep sosialis. Perbedaanya adalah, tujuan koperasi dalam konsep sosialis adalah untuk merasionalkan factor produks dari kepemilikan kolektif, sedangkan koperasi di Negara berkembang seperti di Indonesia, tujuanya adalah meningkatkan kondisi social ekonomi anggotanya.

Kamis, 27 Juni 2013

NOUN CLAUSE

Nouns clause adalah klausa yang berfungsi sebagai nomina. Atau dengan kata lain noun clause juga digunakan atau memiliki fungsi yang sama sebagai noun (kata benda). Karena fungsinya sebagai nomina, maka noun clause dapat berfungsi sebagai: subject kalimat (subject of a sentence), object verba transitif (object of a transitive verb), object preposisi (object of a preposition), pelengkap (complement), dan pemberi keterangan tambahan (noun in apposition). Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan contoh-contoh di bawah ini.

Fungsi dan Contoh Noun Clause
1.    Noun clause sebagai subject kalimat (subject of a sentence)
 Contoh kalimat:
What you said doesn’t convince me at all.
(Apa yang kamu katakan tidak meyakinkan aku sama sekali)
How he becomes so rich makes people curious.
(Bagaimana dia menjadi begitu kaya membuat orang-orang menjadi penasaran)
What the salesman has said is untrue.
(Apa yang sudah dikatakan oleh pedagang itu tidak benar)
That the world is round is a fact.
(Bahwa bumi itu bulat adalah suatu kenyataan)
2.    Noun clause sebagai object verba transitif (object of a transitive verb)
 Contoh kalimat:
I know what you mean.
(Saya tahu apa yang kamu maksud)
I don’t understand what he is talking about.
(Saya tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan)
Please tell me what happened.
(Tolong katakana pada saya apa yang terjadi)
He said that his son would study in Australia.
(Dia mengatakan bahwa puteranya akan belajar di Australi)
Verb (kata kerja) yang dapat diikuti oleh noun clause, dalam hal ini diikuti frase “that-clause” antara lain:
Admit: mengakui
Realize: menyadari
Announce: mengumumkan
Recommend: menganjurkan
Believe: percaya
Remember: mengingat
Deny: menyangkal
Reveal: menyatakan, mengungkapkan.
Expect: mengharapkan
Say: mengatakan
See: melihat
Forget: lupa
Stipulate: menetapkan
Hear: mendengar
Suggest: menganjurkan
Inform: memberitahukan
Suppose: mengira
Know: mengetahui, tahu
Think: berpikiri, berpendapat.
Promise: berjanji
Understand: mengerti, memahami
Propose: mengusulkan
Wish: berharap
3.    Noun clause sebagai object preposisi (object of a preposition)
 Contoh kalimat:
Please listen to what your teacher is saying.
(Tolong dengarkan apa yang sedang di bicarakan gurumu)
Be careful of what you’re doing.
(Hati-hati dengan apa yang sedang kamu lakukan)
4.    Noun clause sebagai pelengkap (complement)
 Contoh kalimat:
The good news is that the culprit has been put into the jail.
(Kabar baiknya adalah pelaku kejahatannya sudah dimasukkan ke penjara)
This is what I want.
(Ini adalah apa yang aku inginkan)
That is what you need.
(Itu adalah apa yang kamu butuhkan)
5.    Noun clause sebagai pemberi keterangan tambahan (noun in apposition)
 Contoh kalimat:
The idea that people can live without oxygen is unreasonable.
(Ide/ gagasan bahwa orang dapat hidup tanpa oksigen itu tidak masuk akal)
The fact that Adam always comes late doesn’t surprise me.
(Kenyataan bahwa Adam selalu datang terlambat tidak mengejutkan saya)
CATATAN:
Klausa yang dicetak tebal pada contoh kalimat di atas adalah noun clause yang dimana fungsinya adalah sebagai nomina/ noun (kata benda).
 
TO INFINITIVE GUESTION
 
QUESTION WORD
Noun clauses with question words adalah klausa nomina yang diawali dengan kata tanya, seperti: when, where, why, how, who, whom, what, which, whose.

Contoh:
- I don’t know where he lives.
- Do you know when they came?
- Please tell me what you want!
- I don’t understand why Susan is absent today.
- I wonder who is outside.
- I don’t know who she is.
- I don’t know whose car that is.



Perhatikan contoh berikut ini:
(a) Where does he live?
(b) I don’t know where he lives.
(c) When did they leave?
(d) Do you know when they left?
(e) What did she say?
(f) Please tell me what she said.
(g) Why is Jerry angry?
(h) I wonder why Jerry is angry.
(i) Who came to class?
(j) I don’t know who came to class.
(k) What happened?
(l) Tell me what happened?


Dari contoh di atas, yang termasuk klausa nomina atau noun clause adalah (b),(f), (h), (j), (l), sedangkan (a),(c),(e), (g), (i), (k) disebut sebagai kalimat tanya atau information question (wh-question). Jadi, noun clause with a question word dan information question berbeda pemakaiannya dalam suatu kalimat. Khusus untuk (d) adalah kalimat tanya (do you know…) yang di dalamnya mengandung klausa nomina (when they left).
 
YES/NO QUESTION
A reported yes-no question also begins with the main clause, but is followed by the content of the quote as it relates to the speaker in time, person, place, and direction, at the moment of speaking.  A subordinating marker if or whether links the reported speech to the main clause.
MAIN CLAUSE REPORTED SPEECH
My friend asked whether I was going with them.
My friend asked if my brother was going too.
My friends ask whether I can drive them.
My friend asked if I would have enough gas.
My friend wanted to know whether we had enough money for gas. 

REPORT SPEECH

Reported Statements
When do we use reported speech? Sometimes someone says a sentence, for example "I'm going to the cinema tonight". Later, maybe we want to tell someone else what the first person said.
Watch my reported speech video:
Here's how it works:
We use a 'reporting verb' like 'say' or 'tell' . If this verb is in the present tense, it's easy. We just put 'she says' and then the sentence:
  • Direct speech: "I like ice cream"
  • Reported speech: She says she likes ice cream
We don't need to change the tense, though probably we do need to change the 'person' from 'I' to 'she', for example. We also may need to change words like 'my' and 'your'.
But, if the reporting verb is in the past tense, then usually we change the tenses in the reported speech:
  • Direct speech: "I like ice cream"
  • Reported speech: She said she liked ice cream
Tense Direct Speech Reported Speech
present simple "I like ice cream" She said (that) she liked ice cream.
present continuous "I am living in London" She said she was living in London.
past simple "I bought a car" She said she had bought a car OR She said she bought a car.
past continuous "I was walking along the street" She said she had been walking along the street.
present perfect "I haven't seen Julie" She said she hadn't seen Julie.
past perfect* "I had taken English lessons before" She said she had taken English lessons before.
will "I'll see you later" She said she would see me later.
would* "I would help, but.." She said she would help but...
can "I can speak perfect English" She said she could speak perfect English.
could* "I could swim when I was four" She said she could swim when she was four.
shall "I shall come later" She said she would come later.
should* "I should call my mother" She said she should call her mother
might* "I might be late" She said she might be late
must "I must study at the weekend" She said she must study at the weekend OR She said she had to study at the weekend
* doesn't change
Occasionally, we don't need to change the present tense into the past if the information in direct speech is still true (but this is only for things which are general facts, and even then usually we like to change the tense):
  • Direct speech: "The sky is blue"
  • Reported speech: She said that the sky is/was blue


Reported Questions
So now you have no problem with making reported speech from positive and negative sentences. But how about questions?
  • Direct speech: "Where do you live?"
How can we make the reported speech here?

In fact, it's not so different from reported statements. The tense changes are the same, and we keep the question word. The very important thing though is that, once we tell the question to someone else, it isn't a question any more. So we need to change the grammar to a normal positive sentence. Confusing? Sorry, maybe this example will help:
  • Direct speech: "Where do you live?"
  • Reported speech: She asked me where I lived.
Do you see how I made it? The direct question is in the present simple tense. We make a present simple question with 'do' or 'does' so I need to take that away. Then I need to change the verb to the past simple.

Another example:
  • Direct speech: "where is Julie?"
  • Reported speech: She asked me where Julie was.
The direct question is the present simple of 'be'. We make the question form of the present simple of be by inverting (changing the position of)the subject and verb. So, we need to change them back before putting the verb into the past simple. Here are some more examples:
Direct Question Reported Question
"Where is the Post Office, please?" She asked me where the Post Office was.
"What are you doing?" She asked me what I was doing.
"Who was that fantastic man?" She asked me who that fantastic man had been.

So much for 'wh' questions. But, what if you need to report a 'yes / no' question? We don't have any question words to help us. Instead, we use 'if':
  • Direct speech: "Do you like chocolate?"
  • Reported speech: She asked me if I liked chocolate.
No problem? Here are a few more examples:

Direct Question Reported Question
"Do you love me?" He asked me if I loved him.
"Have you ever been to Mexico?" She asked me if I had ever been to Mexico.
"Are you living here?" She asked me if I was living here.

Reported Requests
There's more! What if someone asks you to do something (in a polite way)? For example:
  • Direct speech: "Close the window, please"
  • Or: "Could you close the window please?"
  • Or: "Would you mind closing the window please?"
All of these requests mean the same thing, so we don't need to report every word when we tell another person about it. We simply use 'ask me + to + infinitive':
  • Reported speech: She asked me to close the window.
Here are a few more examples:

Direct Request Reported Request
"Please help me" She asked me to help her.
"Please don't smoke" She asked me not to smoke.
"Could you bring my book tonight?" She asked me to bring her book that night.
"Could you pass the milk, please?" She asked me to pass the milk.
"Would you mind coming early tomorrow?" She asked me to come early the next day.
To report a negative request, use 'not':
  • Direct speech: "Please don't be late."
  • Reported speech: She asked us not to be late.
Reported Orders
And finally, how about if someone doesn't ask so politely? We can call this an 'order' in English, when someone tells you very directly to do something. For example:
  • Direct speech: "Sit down!"
In fact, we make this into reported speech in the same way as a request. We just use 'tell' instead of 'ask':
  • Reported speech: She told me to sit down.
Direct Order Reported Order
"Go to bed!" He told the child to go to bed.
"Don't worry!" He told her not to worry.
"Be on time!" He told me to be on time.
"Don't smoke!" He told us not to smoke.

Time Expressions with Reported Speech

Sometimes when we change direct speech into reported speech we have to change time expressions too. We don't always have to do this, however. It depends on when we heard the direct speech and when we say the reported speech.

For example:

It's Monday. Julie says "I'm leaving today".

If I tell someone on Monday, I say "Julie said she was leaving today".
If I tell someone on Tuesday, I say "Julie said she was leaving yesterday".
If I tell someone on Wednesday, I say "Julie said she was leaving on Monday".
If I tell someone a month later, I say "Julie said she was leaving that day".

So, there's no easy conversion. You really have to think about when the direct speech was said.

Here's a table of some possible conversions:
nowthen / at that time
todayyesterday / that day / Tuesday / the 27th of June
yesterdaythe day before yesterday / the day before / Wednesday / the 5th of December
last nightthe night before, Thursday night
last weekthe week before / the previous week
tomorrowtoday / the next day / the following day / Friday

Kamis, 13 Juni 2013

Asal usul dan pencetus kata GALAU

“Aduuh aku lagi ‘galau’ nih ditinggal sama pacar.”
Hmm… Kata-kata galau ternyata sudah menjamur di kalangan remaja Indonesia , bahkan populernya sudah melebihi kata alay, lebay dan sekelompoknya. Tapi sebenernya apakah kalian tahu apa arti galau dan bagaimana sih kata itu kok bisa terciptakan?

Banyak diantara kalian pasti tahu kata-kata galau ini dari situs jejaring sosial, karena memang bener ternyata arti galau tercetus dari akun twitter @poconggg yang sering membuat status dengan hashtag #galau. Dan karena banyak orang yang nge-fans dengan @poconggg, jadi buming deh kata-kata galau itu yang mewakili perasaan si @poconggg ini. Pada akhirnya karena remaja Indonesia mudah terkontaminasi, banyak deh yang ikut-ikutan setiap bikin status dicantumkan si galau ini.

Tapi ternyata, di kamus besar bahasa Indonesia memang sudah ada kata galau itu. Namun nggak sepopuler setelah banyak bermunculan di timeline dan beranda. Dalam bahasa Indonesia yang dibenarkan, galau mempunyai arti : ber – ga – lau : sibuk beramai – ramai ; ramai sekali ; kacau tidak karuan ( piikiran ), ke – ga – lau – an : sifat (keadaan hal). Nah, jadi emang bener tuh si @poconggg nggak asal-asalan memunculkan sebuah kata.

nah, disini ada beberapa kata-kata galau yang akan saya contohkan. tapi bukan dari saya sendiri juga yah. :)
 
 
Aku butuh pagi setelah gelap hari Aku butuh tempat untuk kudiami, ,Aku butuh tersenyum setelah bersedih, Aku butuh hati untuk disayangi.
Selemah-lemahnya pacar adalah pacar yang hilang di malam mingguan
Jika kini kita sudah tak bersma..
Aku akan slalu tersenyum akan hadirmu..
Tpi hati ini akan terluka kmbli jika kau bersama yang lain..:((
Jika waktu tak mampu lagi mengajariku melupakanmu,
lalu, dengan apa lagi Tuhan menguji kesetiaanku.
Aku tidak berharap untuk menjadi aku terpenting dihidupmu . Karena itu merupakan permintaan yang terbesar bagiku .
Aku hanya berharap suatu saat nanti , jika kau melihat aku.
Kau akan tersenyum dan berkata "Dialah orang yang selalu menyayangiku

Kamis, 18 April 2013

assignment 2 active and passive voice


ACTIVE DAN PASSIVE VOICE

Mulai dalam pelajaran terdahulu sampai pelajaran ini kita sudah banyak membicarakan tentang kata bantu to be (is, am, are), Must, can. Sekarang kita masih mempermasalahkan kata bantu itu terutama dalam pembentukan kalimat pasif. Sebelum kita melanjutkan bagaimana untuk membentuk kalimat pasif tersebut ada baiknya kita mengetahui kalimat berikut:

      a.      Saya memanggil = I am calling
      b.      Saya di pangil      = I am called

Dalam kalimat 1, kita melihat awalan me- dan kalimat 2, kita melihat awalan di- dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, awalan me- dan ber – disebut aktif dan awalan di- dan ter- disebut pasif. Demikian juga dalam bahasa inggris, I am calling disebut aktif dan I am called disebut pasif.
Diamana letak perbedaannya?
Letak perbedaannya hanya dalam kata kerjanya. 
  • Kata kerja yang ditambah ing- adalah aktif.
  • Kata kerja bentuk ketiga atau past participle adalah pasif.
Cara membentuk kalimat pasif dari aktif:
1.      Pokok kalimat didalam kalimat aktif menjadi penderita didalam pasif, dan sebaliknya penderita didalam kalimat aktif menjadi pokok didalam pasif.
2.      Rumus: to be + past participle.
3.      Perubahan tense (waktu) seperti dalam aktif.

Contoh:
Aktif   : I write a letter.
Pasif    : A letter is written by me.
Aktif   : He hated me.
Pasif    : I was hated by him

Catatan
1.      Ingat kembali pasangan-pasangan kata bantu to be (is, am, are) dengan pokok kalimat. Dan juga perubahan pokok kalimat menjadi penderita, misalnya I menjadi me, he menjadi him.
2.      Ingat kembali perubahan kata kerja beraturan dan kata kerja tak beraturan, misalnya: to hate - hated; to write – wrote – wrriten.
3.      Ingat kembali bentuk tunggal dan jamak dari kata benda atau kata ganti orang. Kalau tidak, anda akan mengalami  kesulitan dalam penempatan to be (is, am, are) dan was, were.



a. Jika active voice dalam present perfect tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah been yang diletakkan setelah auxiliary has atau have, sehingga menjadi ‘has been’ atau ‘have been’

~Contoh:
Active : He has met them
Passive : They have been met by him

b. Jika active voice dalam past perfect tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah been yang diletakkan setelah auxiliary had, sehingga menjadi had been

~Contoh:
Active : He had met them before I came.
Passive : They had been met by him before I came

c. Jika active voice dalam simple present tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah is, am atau are.

~Contoh:
Active : He meets them everyday.
Passive : They are met by him everyday.

d. Jika active voice dalam simple past tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah was atau were

~Contoh:
Active : He met them yesterday
Passive : They were met by him yesterday

e. Jika active voice dalam present continous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah is, am atau are yang ditambah bein, bentuk past participle dari kata kerja dan subyek kalimat aktif.
~Contoh:
Active: I am reading a story.
Passive: A story is being read by me

f. Jika active dalam past continous tense, maka ‘be’ passive voice-nya adalah was atau were. Ditambah being ditambah bentuk lampau kata kerja ditambah by ditambah subjek kalimat aktif.

~Contoh:
Active: He was giving a lecture.
Passive: A lecture was being given by him.

g. Modal auxiliary terdiri dari beberapa modal seperti: will, would, can, could, shall, should, thought to, must, may, and might. Mereka sering digunakan dalam pasif. Rumus modal ini sebagai berikut:
Modal + menjadi + past participle

~Contoh:
1. Dia dapat dinilai sebagai pembuat masalah.
2. Mereka harus transit di ruang tamu.
3. Kita mungkin dilupakan oleh mereka.
4. Makalah ini akan berdaun sini oleh Andy.


mau jadi enterpreneur??



Kata entre pada entrepreneur berasal dari kata entrependere (bahasa Perancis) yang berarti sebuah usaha yang berani dan penuh resiko atau sulit. Dengan demikian, kata entrepreneur mempunyai arti sebagai berikut :
Entrepreneur

* Orang yang menciptakan pekerjaan yang berguna bagi diri sendiri

* Suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu yang ada pada diri kita untuk di manfaatkan dan di tingkatkan agar lebih optimal sehingga dapat meningkatkan taraf hidup kita.

* Orang yang mampu mengolah sumber daya yang ada menjadi suatu produk yang mempunyai nilai:

* Mencari Keuntungan dari peluang yang belum digarap oleh orang lain

Apakah Seorang entrepreneur sejati itu? Entrepreneur sejati adalah mereka yang dikaruniai kemampuan sebagai berikut :

1. Kemampuan ( IQ & Skill)

* membaca peluang,
* berinovasi,
* mengelola,
* menjual,

2. Keberanian (EQ & Mental )

* mengatasi ketakutan,
* mengendalikan resiko,
* keluar dari zona kenyamanan,

3. Keteguhan Hati (Motivasi Diri)

* persistence (ulet), pantang menyerah,
* determinasi (teguh dalam keyakinannya),
* kekuatan akan pikiran (power of minda) bahwa anda juga bisa.

4. Kreativitas (Creativity)


* mencari peluang (experiences)

Dengan kemampuan diatas, seseorang entrepenur sejati akan mempunyai ciri pokok: mengenal dirinya sendiri, percaya diri; dan mampu menjual dirinya sendiri.

Apabila anda akan menjadi seorang entrepreneur sejati, Anda harus memiliki:

* pengetahuan (knowledge),
* kemampuan (skill),
* pengalaman (experiences),
* jaringan (networking),
* informasi (informations),
* sumber yang ada (resources): uang, bakat, lingkungan, keluarga,
* waktu (time)
* masa depan dan kesempatan (future & opportunity)

Kamis, 04 April 2013

BACKPACKER

Sebenarnya apa sih definisi backpacker itu sebenarnya? menurut wikipedia versi bahasa inggriss “Backpacking is a term that has historically been used to denote a form of low-cost, independent international travel” atau bisa dibaca lengkapnya disini.
Sedangkan menurut wikipedia versi bahasa indonesia “Wisata beransel atau perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakaian secukupnya, dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. ” yang mana arti dari backpacking menjadi sedikit aneh, karena setiap orang yang berpergian dengan menggunakan ransel bisa menganggap dirinya sebagai seorang backpacker.
Seorang backpacker yang sebenarnya tidak hanya seorang yang berwisata dengan menenteng ransel segede gajah yang beratnya bisa berkilo - kilo, arti seorang backpacker lebih dari itu. Secara mendasar seorang backpacker adalah seorang smart traveller.
Sekali lagi smart traveller bukan berarti buat pergi travelling kamu harus sekolah dulu, kursus dan lain - lainnya. That’s dumb kamu hanya akan menghabiskan waktumu untuk belajar teori. Ingat travelling berarti learning by doing, karena di perjalanan kamu akan menemukan hal - hal yang tidak bisa ditemukan di sekolah, bahkan disekolah terbaik sekalipun.
Setelah penjelasan panjang dan tidak terlalu lebar diatas, tentunya kamu bisa menyebut diri sebagai backpacker apabila sudah mengerti esensi dari seorang backpacker adalah seorang smart traveller. Secara detail seorang smart traveller harus berprinsip 5 S ini :
  • Smart Budgeting

  • Smart Adapting

  • Smart Socializing

  • Smart Trip Planning

  • Smart Documenting
1. Smart Budgeting
Sudah semestinya seorang backpacker menginginkan sebuah perjalanan semurah mungkin, bahkan kalau bisa GRATIS!! meskipun begitu menginginkan yang termurah bukan berarti pelit. Ingat ber-backpacking berarti kita ingin mencari sesuatu yang menarik di perjalanan. Jangan sampai gara - gara terlalu ngirit (baca : pelit) kamu melewatkan sesuatu yang menarik, yang mungkin hanya bisa ditemui sekali seumur hidup.
Oleh - oleh juga menjadi suatu tantangan bagi seorang backpacker, terlebih lagi untuk negara seperti indonesia ini. Karena begitu itenary jalan - jalan mu diketahui entah keluarga atau atau teman, pasti akan datang ribuan request yang bilang “minta oleh - oleh dong” *sigh ==” . Travelling dengan konsep backpacker bukan berarti kita harus pelit lah, walau pun memang kita bermaksud ngirit. saya sendiri lebih suka membelikan barang yang ukurannya kecil dan tidak terlalu memakan space ransel. Yang penting ikhlas dari pada beli trus ngrundel (baca : tidak ikhlas). Satu lagi yang paling penting, berbackpacking bukan berarti wisata shopping, kalau tidak berarti you fail menjadi seorang backpacker, mending bawa koper aja hahaha.
2. Smart Adapting
Seorang backpacker sebenarnya lebih mendekati sebagai seorang petualang, dimana kemampuan adaptasi yang tinggi diperlukan untuk menjadi seorang backpacker. Kamu tidak akan tahu apa yang terjadi di perjalanan, entah ketinggalan pesawat, tidak dapet penginapan, cuaca extrem atau apapun lah, yang tidak ada di dalam itenarymu.
Bersiap - setiap saat wajib hukumnya bagi seorang backpacker, dan bergerak cepat mengatasi masalah yang terjadi diperjalanan menjadi pembelajaran yang tidak akan didapatkan di bangku sekolah. berbahagialah bagi yang sudah mencapai lavel ini, berarti kamu selangkah lebih dekat menjadi seorang backpacker.
3. Smart Socializing
Ketika dihadapkan untuk berbackpacking seorang diri atau solo backpacking kemampuan smart socializing ini menjadi skill wajib seorang backpacker. Mencari teman di perjalanan sekedar untuk melepas kebosanan di perjalanan atau bahkan mungkin untuk mendapatkan informasi tujuan.
Memang tidak semua traveller mempunyai skill sosialisasi yang sama, tapi paling tidak mau berubah dan belajar bersosialisasi, saya sendiri masih perlu banya belajar untuk yang satu ini, karena saya sebenarnya seorang yang cukup pendiam.
4. Smart Trip Planning
Perencanaan trip yang matang, juga menjadi salah satu dasar keberhasilan dari suatu perjalanan dengan konsep backpacking. Beruntung kita hidup di era yang serba mudah. Andalan saya untuk merencanakan sebuah perjalanan adalah “Google” , hanya dengan google seorang backpacker bisa merencanakan semua tentang perjalanan dari A hingga Z.
Kalaupun sudah mentok anda bisa bertanya di forum - forum pejalan yang sekarang sudah bertebaran di internet. Tapi ingat riset dulu dengan “Google” sebelum bertanya, paling tidak kamu tidak terlalu tersesat. Jangan sampai bertanya di forum dengan model pertanyaan seperti ini “hei, gw mau backpacking ke perancis nih, bagi ittenarynya dong, nginep yang murah dimana? tempat yang bagus apa? bla bla bla“. Ingat!! Para backpacker yang lain bukan tour agency, kadang males juga kalo liat postingan di forum yang mau enaknya aja sperti itu. Minimal bertanyalah dengan sedikit tahu, gunakan “Google” dengan bijak, bagaimana jika ada yang memberikan informasi salah dan kamu belum pernah meneliti sebelumnya? yang ada bencana di perjalananmu.
5. Smart Documenting
Sampai saat ini alat untuk membaca pikiran dan hati manusia belum ditemukan, jadi dokumentasikan lah setiap perjalanan backpackingmu. Seperti kata pak Dahlan Iskan, “kalau ingin orang tahu isi hatimu, tulislah”. Tak perlu lah ditulis dengan kertas, selain membantu pengurangan penebangan pohon untuk membuat kertas, kita sudah hidup di jaman yang serba digital, tinggal pakai blog gratisan seperti blogspot atau wordpress juga sudah cukup, publikasi juga semakin mudah dan murah.